Pukul 4.30 pagi-pagi buta, dingin makin menggigit, kenyamanan kasur empuk dan selimut yang hangat makin menggoda nian. Dengan tubuh yang terasa amat berat dan mata masih lengket, Maisaroh bangkit dari tempat tidurnya. Sambil tertatih-tatih ia berjalan menuju kran wudhu yang terletak tak jauh dari dapur dan persis berdekatan dengan kamar mandi.
Brrr...Rasanya airpun tak kalah dingin dengan es di kutub. Membuat malas saja meski hanya untuk berwudhu. Ibau Mai hanya menggeleng-geleng sambil memandang penuh anak perempuannya yang kelakuannya aneh akhir-akhir ini. Iya, memang benar, akhir-akhir ini
Mai nampak berbeda, meski ia tergolong gadis yang sholehah, dan tak lupa kewajiban lima waktunya, tetapi ada aura yang berbeda tak seperti biasanya. Ibadahnya lebih khusyuk dan hampir sempurna dengan ibadah-ibadah sunah lainnya, yang sudah ia lakukan 7 hari terakhir ini.
Tiap ibunya bertanya sebab dari perubahannya itu, Mai hanya tersenyum malu sambil berkata, "tidak ada apa-apa,bu". Jawaban yang sangat singkat, tapi sarat penuh makna karena pipinya semu merah setelah mengatakan kalimat itu kepada ibunya. Gadis 17 tahun itu memang seperti putri yang sedang terkena panah asmara, tiada hari tanpa senyuman manis, senyuman yang selalu muncul, ketika ibunya menanyakan teman sekelasnya. Ihsan.
"Ibu rasa, Ihsan membawa dampak positif padamu, Mai", celetuk IbuMai memecah keheningan setelah mengaji kitab kecil yang rutin dilakukan oleh Mai tiap pagi subuh, dan petang setelah magrib.
"Ibu, apa yang ibu maksud, Ihsan hanya teman kok bu, tidak lebih", jawab Mai malu-malu
"Tak ada salahnya Mai berteman dekat dengannya, toh juga Ihsan anak yang soleh, sopan pula, Ibu melihat akhir-akhir ini ibadah-ibadahmu makin baik, terlebih sunnahnya, hampir semua sunnah kamu lakukan. Tapi, tak berarti kau melakukan ini karena kau sedang simpati kepada Ihsan kan,nak?", Ibu menimpali. Mai merasa malu dan hanya tertunduk. Bagaimanapun ibu adalah wanita yang mengandung Mai, sehingga apa yang sedang Mai rasakan bukan tak mungkin ibunya tak tahu, tak luput pula dengan urusan yang sensitif ini, urusan cinta.
"Mai tak tahu bu, Mai bingung dengan apa yang Mai rasakan. Tapi, bukankah semuanya ini positif untuk Mai?", tanya Mai tenang.
"Ibu tak menyalahkan dengan perubahan yang terjadi padamu, nak. Jelas pasti ibu senang dengan perubahan-perubahan yang positif ini, ibadahmu, tingkahlakumu, semua mengalami kemajuan, tetapi, bukan berarti ibadah dan semua yang positif itu dikarenakan hal lain kecuali Allah,nak", Ibu menjelaskan pelan.
"Ketika kau melakukan hal-hal yang baik, prubahan-perubahan positif tetapi didasarkan hal lain selain Allah, maka ketika hal tersebut membuatmu kecewa perubahan-perubahan itu akan menguap sejalan rasa kecewa itu, tetapi itu tak akan terjadi serupa jika alasannya adalah untuk Allah, karena Allah tidak akan pernah mengecewakan kita, Allah tahu apa yang kita butuhkan, lebih dari diri kita sendiri."
Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara berisik dijalan depan rumah Mai. Ya, aktivitas kehidupan telah dimulai, meski pagi masih buta. "Semua amal ibadah akan baik hasilnya dan akan manis pada akhirnya jika tujuannya adalah semata-mata untuk Allah, anakku, bukan yang lain." "Tapi ibu mengerti dengan apa yang sedang kau rasakan, dan ibu berharap perubahan positif ini tetap Mai pertahankan untuk kedepannya.", yakin Ibu Mai.
"Insyallah bu.", jawab Mai mantap.
Percakapan antara Mai dan ibunya di pagi yang dingin itu selesai bersamaan dengan terangnya semburat sinar mentari yang menyelinap dibalik sela-sela pintu rumah. Berubah menjadi hangat dan nyaman. Hari itu sempurna menjadi pagi yang cerah bagi Mai.

0 komentar:
Posting Komentar